
Fenomena pemeringkatan perguruan tinggi global kembali menjadi sorotan setelah munculnya berbagai situs tiruan yang mengatasnamakan Webometrics. Situs-situs seperti https://webometrics.org, https://webometricsranking.com, hingga https://webometrics.online mulai banyak dikutip oleh kampus, media, bahkan lembaga resmi, padahal situs-situs tersebut bukan merupakan kanal resmi dari pemeringkatan Webometrics yang dikembangkan oleh Cybermetrics Lab – CSIC Spanyol.
Masalah ini mendapat perhatian serius dari akademisi dan pengamat scientometrics dunia. Artikel yang diterbitkan oleh LSE Impact Blog menyebut fenomena ini sebagai “predatory university rankings” atau pemeringkatan predator yang mengancam integritas ekosistem evaluasi perguruan tinggi global.
Indonesia Menjadi Konsumen Terbesar Ranking Palsu
Bagian yang paling memprihatinkan dari fenomena ini adalah kenyataan bahwa Indonesia justru menjadi negara dengan jumlah publikasi tertinggi yang mengutip dan merayakan ranking dari website-website palsu tersebut.
Dalam laporan yang dikutip LSE disebutkan:
As of March 12, 2026, I have identified 178 publications across 25 countries where news agencies and university press offices celebrated their ‘rise’ in the Webometrics ranking. The leading countries in terms of publication activity are Indonesia (94), Ukraine (17), Turkey (11), the Philippines (10), Egypt (5), and South Africa (5).
Artinya, hampir separuh publikasi global yang menyebarkan klaim ranking palsu Webometrics berasal dari Indonesia.
Hal ini tentu menjadi ironi besar. Di saat perguruan tinggi berlomba membangun reputasi internasional dan tata kelola akademik berbasis mutu, justru banyak institusi di Indonesia terjebak menjadi konsumen utama disinformasi ranking.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya verifikasi sumber dalam publikasi akademik institusi masih sangat lemah. Banyak kampus langsung merilis berita “naik ranking dunia” tanpa memastikan apakah data tersebut berasal dari sumber resmi atau hanya dari mirror site yang tidak memiliki legitimasi.
Lebih jauh lagi, studi preprint terbaru tentang “predatory rankings” menunjukkan bahwa Indonesia mempertahankan posisi tertinggi sepanjang periode Januari–Maret 2026 dalam penyebaran publikasi ranking palsu. Penulis bahkan menilai bahwa tingginya tekanan KPI, orientasi pencitraan institusi, dan budaya kompetisi reputasi digital membuat sebagian perguruan tinggi sangat rentan terhadap manipulasi ranking.
Munculnya “Mirror Site” dan Disinformasi Akademik
Selama bertahun-tahun, Webometrics dikenal sebagai salah satu alternatif pemeringkatan perguruan tinggi berbasis keterbukaan web (open web indicators). Situs resminya berada di https://www.webometrics.info dan dikelola langsung oleh Isidro F. Aguillo. Adapun saat ini publikasi perangkingan Webometrics di https://figshare.com/authors/Isidro_F_Aguillo/5817613.
The website of the Ranking Web of Universities (https://t.co/8muUbx7HAX) has been discontinued. The January 2025 edition can be downloaded ONLY from here:https://t.co/A8TuPjy8ta
Next edition, as usual, is scheduled for the end of July— Isidro F. Aguillo (@isidroaguillo) June 6, 2025
Namun sejak 2025–2026, berbagai “mirror site” bermunculan dan menampilkan data yang tidak dapat diverifikasi. Bahkan beberapa situs menampilkan ranking yang berbeda dari data resmi dan kemudian digunakan oleh perguruan tinggi untuk kebutuhan publikasi institusi.
Dalam wawancara yang dikutip LSE Impact Blog, Aguillo menyampaikan bahwa banyak universitas mulai menautkan situs palsu tanpa melakukan verifikasi sumber. Ia bahkan menyatakan bahwa data yang dipublikasikan oleh situs-situs tersebut untuk edisi Januari 2026 bersifat “fabricated and not correct” atau dipalsukan dan tidak benar.
Fenomena ini menjadi berbahaya karena menciptakan “ilusi legitimasi”. Ketika kampus mempublikasikan klaim ranking dari sumber palsu, maka publik menganggap data tersebut resmi, padahal metodologi dan validitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Ancaman Penalti untuk Kampus
Isu ini tidak lagi sekadar persoalan salah kutip. Berdasarkan berbagai laporan akademik terbaru, Aguillo disebut mulai mempertimbangkan sanksi atau penalti terhadap institusi yang menggunakan dan menyebarluaskan data dari situs palsu tersebut untuk kepentingan branding akademik. Ancaman penalti ini diperkirakan mulai berlaku pada edisi Juli 2026 mendatang.
Universities citing webometrics fake rankings will be penalyzed in the next July edition of the 23-year old Ranking Web of Universities (former https://t.co/8muUbx7HAX)
— Isidro F. Aguillo (@isidroaguillo) May 21, 2026
Jika benar diterapkan, maka dampaknya cukup serius, terutama bagi perguruan tinggi yang aktif menggunakan capaian Webometrics sebagai indikator reputasi digital institusi.
Kondisi ini menjadi alarm penting bagi perguruan tinggi di Indonesia agar lebih berhati-hati dalam melakukan publikasi capaian ranking.
Data Resmi Kini Tidak Lagi Sepenuhnya Terbuka
Permasalahan lain yang memperumit keadaan adalah berubahnya model distribusi data Webometrics.
Selama bertahun-tahun, data lengkap Webometrics dapat diakses secara terbuka melalui webometrics.info. Namun mulai edisi Januari 2026, akses detail indikator dan dataset lengkap tidak lagi tersedia bebas. Aguillo kini menyediakan file lengkap indikator ranking melalui permintaan khusus dengan biaya sekitar 200 euro.
The new January 2026 edition of the Ranking Web (https://t.co/8muUbx7HAX) is available from Figshare.
Ignore fake websites with fabricated datahttps://t.co/Jnw9r05uJF— Isidro F. Aguillo (@isidroaguillo) January 26, 2026
Akibatnya, banyak perguruan tinggi tidak lagi memiliki akses langsung terhadap data utuh, sementara di sisi lain situs-situs palsu justru menyediakan “data gratis” yang belum tentu valid.
Situasi inilah yang kemudian membuka ruang subur bagi berkembangnya mirror site dan disinformasi ranking.
Perlunya Intervensi Pemerintah
Dalam konteks Indonesia, kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius tidak hanya bagi Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama, tetapi juga bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai otoritas utama tata kelola pendidikan tinggi nasional.
Apabila Perguruan Tinggi Keagamaan maupun Perguruan Tinggi Umum tetap ingin merilis capaian Webometrics secara resmi, maka diperlukan mekanisme verifikasi nasional yang lebih kredibel. Salah satu opsi paling realistis adalah pemerintah melalui Kementerian Agama dan Kemendiktisaintek memfasilitasi pengadaan dataset resmi langsung dari sumber otoritatif dan kemudian merilis laporan nasional yang dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah ini penting karena:
- Menghindari penggunaan data palsu dari mirror site.
- Menjamin keseragaman referensi antar kampus.
- Melindungi institusi dari potensi penalti reputasional.
- Menjaga integritas publikasi akademik nasional.
- Mendorong tata kelola data pemeringkatan yang lebih akuntabel.
- Mengurangi ketergantungan kampus terhadap sumber ranking tidak resmi.
Tanpa fasilitasi semacam ini, masing-masing kampus berpotensi mencari data sendiri dari sumber yang belum tervalidasi dan akhirnya justru memperluas penyebaran disinformasi akademik.
Integritas Akademik di Era Ranking Digital
Kasus “predatory Webometrics” menunjukkan bahwa tantangan integritas akademik kini tidak hanya hadir dalam bentuk jurnal predator, tetapi juga dalam bentuk pemeringkatan predator.
Perguruan tinggi perlu memahami bahwa ranking bukan sekadar angka untuk kebutuhan promosi, melainkan bagian dari ekosistem evaluasi akademik global yang membutuhkan validitas sumber, transparansi metodologi, dan akuntabilitas data.
Dan yang paling memalukan, Indonesia saat ini justru tercatat sebagai pasar terbesar penyebaran informasi ranking palsu tersebut.
Di tengah meningkatnya ketergantungan kampus terhadap branding digital dan reputasi internasional, kehati-hatian dalam memilih sumber data menjadi sangat penting. Sebab ketika institusi akademik mulai menggunakan data yang tidak sahih, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi ranking, tetapi juga kredibilitas akademiknya sendiri.